Monthly Archives: Juli, 2010

Kunci4

mesta alam).

Catatan kaki:

[1] Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata: “Sesungguhnya doa yang sering dipanjatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: ‘Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka’.” (Shahihul Bukhari, Kitabud Da’wat, bab Qaulun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Rabbana Aatina fid Dunya Hasanah, no. hadits 6389, 11/191)

[2] Tafsir Ibnu Katsir, 4/449.

[3] Dalam riwayat lain disebutkan: “Barangsiapa menetapi/tidak meninggalkan istighfar”. Lihat, Sunan Abu Daud, 4/267, Sunan Ibnu Majah, 2/339. Dan maknanya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Ath-Thayyib Al-Azhim Abadi yaitu saat terjadinya maksiat atau adanya ujian atau ada orang yang penyakitnya terus-menerus, maka sungguh dalam tiap nafas ia membutuhkan kepadanya (istighfar dan taubat). Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Beruntunglah orang yang mendapati dalam shahifah (catatan amalnya) istighfar yang banyak.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan shahih).” (Aunul Ma’bud, 4/267)

[4] Al-Musnad, no. 2234, 4/55-56 dan lafazh tersebut adalah redaksi miliknya. Sunan Abu Daud, Abwabu Qiyamil Lail, Tafri’u Abwabil Witr, Bab Fil Istighfar, no. 1515, 4/267. Kitbus Sunan Al-Kubra, Kitabu Amalil Yaumi wal Lailah, no. 10290/2, 6/118. Sunan Ibnu Majah, Abwabul Adab, Bab Al-Istighfar, no. 3864, 2/339. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitabut Taubah wal Inabah, 4/292.

[5] Tafsir Al-Qurthubi, 18/159. Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata: “Dia memberi jalan keluar dari setiap apa yang menyesakkan manusia.” (Zaadul Masir, 8/291-292. Tafsir Al-Baghawi, 4/357 dan Tafsir Al-Khazin, 7/108)

[6] Zaadul Masir, 8/291-292.

[7] Tafsir Ibnu Katsir, 4/400.

[8] Tafsir Ibnu Katsir, 4/400. Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651.

[9] Faidhul Qadir, 5/311.

[10] Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304. Jami’ut Tirmidzi, Kitabuz Zuhud, bab Fit Tawakkal ‘Alallah, no. 2344, no. 2447, 7/7 dan lafazh ini adalah miliknya; Sunan Ibnu Majah, Abwabuz Zuhd At-Tawakkal wal Yaqin, no. 4216, 2/419. Kitabuz Zuhud oleh Ibnu Al-Mubarak, juz IV, bab At-Tawakkal wat Tawadhu’ no. 559, hal. 196-197. Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabur Raqa’iq, bab Al-Wara’ wat Tawakkal, Dzikrul Akhbar ‘amma Yajibu ‘alal Mar’i min Qath’il Qulubi ‘anil Khala’qi bi Jami’il ‘Ala’qi fi Ahwalihi wa Asbabuhi no. 730, 2/509. Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/318. Musnad Asy-Syihab, Lau Annakum Tatawakkaluna ‘ala Allah Haqqa Tawakkulihi, no. 1444, 2/319. Syarhus Sunnah oleh Al-Baghawi, Kitabur Riqaq, bab At-Tawakkal ‘ala Allah Azza wa Jalla no. 4108, 14/301. Imam At-Tirmidzi berkata, “Ini adalah hadits shahih, kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini.” (Jami’ut Tirmidzi, 7/8). Imam Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits dengan sanad shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.” (Al-Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, 4/318). Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhis, 14/318). Imam Al-Baghawi berkata, “Ini adalah hadits hasan.” (Syarhus Sunnah, 14/301). Dan sanadnya dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir (Hamisyul Musnad, 1/243). Serta Syaikh Al-Albani menshahihkannya (Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah no. 310, jilid 1, juz III/12).

[11] Syahrus Sunnah, 14/298.

[12] Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306.

[13] Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157.

[14] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabur Raqai’iq, Bab Al-Wara’ wat Tawakkul, Dzikrul Akhbar bi Annal Mar’a Yajibu Alaihi Ma’ Tawakkulil Qalbi Al-Ihtiraz bil A’dha’Dhidda Qauli Man Karihahu, no. 731, 2/510, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadrak Alash Shahihain, Kitab Ma’rifatish Shahabah, Dzikru Amr bin Umayah radhiyallahu ‘anhu, 3/623. Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata, ‘Sanad hadits ini jayyid’. (At-Talkhish, 3/623). Al-Hafizh Al-Haitsami juga mengatakan hal senada dalam Majma’uz Zawa’id wa Manba’ul Fawa’id, 10/303. Beliau berkatah ‘Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari banyak jalan. Dan para pembawa hadits ini adalah pembawa hadits Shahih Muslim selain Ya’kub bin Abdullah bin Amr bin Umayah Adh-Dhamari, dan dia adalah tsiqah (terpercaya). (Op. cit., 10/303)

[15] Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368.

[16] Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain, Kitabur Riqaq, 4/326. Imam Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini shahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” (Op. cit. 4/326). Dan hal ini disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 4/326). Syaikh Al-Albani berkata, “Tentang hadits ini, memang seperti dikatakan oleh keduanya.” (Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah, no. 1359, 3/347)

[17] Hasyiyatul Imam As-Sindi ‘ala Sunan An-Nasa’i, 5/115. Lihat pula Faidhul Qadir oleh Al-Manawi, 3/225.

[18] Haji mabrur adalah haji yang memenuhi semua hukum-hukum (persyaratan)-nya, sehingga dilakukan sesuai dengan yang diminta dari seseorang mukallaf (yang dibebani syariat) secara sempurna. (Tuhfatul Ahwadzi, 3/454)

[19] Al-Musnad, no. 3669, 5/244-245. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Hajj, bab Ma Ja’a fi Tsawabul Hajji wal ‘Umrati, no. 807, 3/454 dan lafazh ini miliknya. Sunan An-Nasa’i, kitab Mamasikil Haji, fadhul Mutaba’ti Bainal Hajji wal ‘Umrati, 5/115. Shahih Ibnu Khuzaimah, Kitabul Manasik, bab Al-Amru bil Mutaba’ati Bainal Hajji wal ‘Umrati, no. 464, 4/130. Al-Ihsan ila Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Hajj, bab Fadhul Hajji wal ‘Umrati, no. 3693, 9/6. Imam At-Tirmidzi berkata, “Hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah hasan shahih gharib.” (Jami’ut Tirmidzi, 3/455). Syaikh Ahmad Syakir berkata, “Sanadnya shahih.” (Hamisyul Musnad, 5/244). Syaikh Al-Albani berkata, “Hadits ini hasan shahih.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 1/245 dan Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/558). Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth berkata, “Sanad hadits ini hasan.” (Hamisyul Ihsan, 9/6).

[20] Faidhul Qadir, 3/225.

[21] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986, 10/415.

[22] Op. Cit., 10/415.

[23] Umdatul Qari, 22/91.

[24] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birri wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, 2/180.

[25] Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibnu Hibban, Kitabul Birri wal Ihsan, bab Shilaturrahim wa Qath’iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (2/183-184).

[26] Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 6/30.

[27] Tafsirut Tahrir wat Tanwir, 22/221.

[28] Tafsir Ibnu Katsir, 3/595. Lihat pula, Tafsirut Tahrir wat Tanwir, di mana di dalamnya disebutkan, “Secara lahiriah, ayat itu menunjukkan adanya penggantian rizki, baik di dunia maupun di akhirat.” (22/221)

[29] Shahih Muslim, kitab Az-Zakah, bab Al-Hatstsu ‘alan Nafaqah wa Tabsyiril Munfiq bil Khalf, no. 36 (993), 2/690-691.

[30] Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd war Raqa’iq, Bab Ash Shadaqah alal Masakin, no. 45 (2984), 4/2288.

[31] Op. cit., 4/2288.

[32] Op. cit. 18/115.

[33] Yakni untuk mencari ilmu dan pengetahuan. (Murqatul Mafatih, 9/170)

[34] Dan sepertinya mereka berdua makan dari hasil kerjanya. (Murqatul Mafatih, 9/170)

[35] Yakni mengapa saudaranya tidak mau membantunya dalam bekerja atau mencari pekerjaan lain. (Murqatul Mafatih, 9/170-171)

[36] Jami’ut Tirmidzi, Abwabuz Zuhd, Bab Ma Ja’a fiz Zahadati fid Dunya, no. 2448, 7/8, dan lafazh ini miliknya. Al-Mustadrak alash Shahihain, Kitabul Ilm, 1/93-94. Imam Al-Hakim berkata, ‘Hadits ini shahih berdasarkan syarat Muslim. Para perawinya tsiqat (terpercaya), tetapi hadits ini tidak dikeluarkan (diriwayatkan) oleh Al-Bukhari dan Muslim. (Op. cit., 1/94). Dan hal ini disepakati oleh Al-Hafizh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 1/94). Syaikh Al-Albani berkata shahih. (Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/274)

[37] Dinukil dari Tafsir Al-Qasimi, 3/250.

[38] (Seperti) ditolong dari serangan musuh. (Murqatul Mafatih, 9/84)

[39] Shahihul Bukhari (yang dicetak bersama Umdatul Qari), Kitab Al-Jihad was Siyar, Bab Man Ista’ana bidh Dhu’afa wash Shalihin fil Harbi, no. 108, 14/179.

[40] Al-Musnad, 5/198 (cet. Al-Maktab Al-Islami). Sunan Abi Daud, Kitab Al-Jihad, Bab Al-Intishar bi Radhalil Khail wadh Dha’fah, no. 2591, 7/183. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Jihad, bab Ma Ja’a fil Istiftah bi Sha’alikil Muslimin, no. 1754, 5/291, dan redaksi ini adalah miliknya. Sunan An-Nasa’i, Kitab Al-Jihad, Al-Istinshar bidh Dha’if, 6/45-46. Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitab As-Siar, Bab Al-Khuruj wa Kaifiyatul Jihad, Dzikru Istihbabil Intishar bi Dhu’aafa’il Muslimin ‘inda Qiyamil Harbi ‘ala Saq, no. 4767, 11/85. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitab Al-Jihad, 2/106. Tentang hadits ini Imam At-Tirmidzi berkata, ‘Ini adalah hadits hasan shahih.’ (Jami’ut Tirmidzi, 5/292). Dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim. (Al-Mustadrak, 2/106). Disepakati oleh Adz-Dzahabi (At-Talkhish, 2/106). Juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. (Shahih Sunan Abi Daud, 2/492. Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/140. Shahih Sunan An-Nasa’i, 2/669. Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah, no. 779, 2/422).

[41] Murqatul Mafatih, 9/84.

[42] At-Tafsirul Kabir, 11/15.

Sumber: Kunci-kunci Rizki Menurut Al Qur’an & As Sunnah karya Dr. Fadhl Ilahi (penerjemah: Ainul Haris Arifin, Lc.), penerbit: Darul Haq, Jakarta. Cet. III, Ramadhan 1421 H / November 2000 M, dengan sedikit diringkas dan perubahan seperlunya.

Link rujukan:

http://salafiyunpad.wordpress.com/2007/09/27/kunci-kunci-rizki-menurut-al-quran-as-sunnah/

http://www.pengusahamuslim.com/baca/artikel/12/kunci-kunci-rizki-menurut-al-quran-a-as-sunnah-bagian-kedua

Kunci3

s, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Betapapun sedikit apa yang kamu infakkan dari apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan apa yang diperbolehkanNya, niscaya Dia akan menggantinya untukmu di dunia, dan di akhirat engkau akan diberi pahala dan ganjaran, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits …” [28]

Dalil lainnya adalah hadits riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepadanya:

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku berinfak (memberi rizki) kepadaMu.” [29]

Allahu Akbar! Betapa besar jaminan orang yang berinfak di jalan Allah! Betapa mudah dan gampang jalan mendapatkan rizki! Seorang hamba berinfak di jalan Allah, lalu Dzat Yang di TanganNya kepemilikan segala sesuatu memberikan infak (rizki) kepadanya. Jika seorang hamba berinfak sesuai dengan kemampuannya maka Dzat Yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi serta kerajaan segala sesuatu akan memberi infak (rizki) kepadanya sesuai dengan keagungan, kemuliaan dan kekuasaanNya.

Berapa banyak bukti-bukti dalam kitab-kitab Sunnah (Hadits), Sirah (Perjalanan Hidup), Tarajum (Biografi), Tarikh (Sejarah), bahkan hingga dalam kenyataan-kenyataan yang kita alami saat ini yang menunjukkan bahwa Allah mengganti rizki hambaNya yang berinfak di jalanNya.

Berikut ini kami ringkaskan satu bukti dalam masalah ini. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Ketika seorang laki-laki berada di suatu tanah lapang bumi ini, tiba-tiba ia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’ Maka awan itu berarak menjauh dan menuangkan airnya di areal tanah yang penuh dengan batu-batu hitam. Di sana ada aliran air yang menampung air tersebut. Lalu orang itu mengikuti kemana air itu mengalir. Tiba-tiba ia (melihat) seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya. Ia mendorong air tersebut dengan skopnya (ke dalam kebunnya). Kemudian ia bertanya, ‘Wahai hamba Allah! Siapa namamu?’ Ia menjawab, ‘Fulan’, yakni nama yang didengar di awan. Ia balik bertanya, “Wahai hamba Allah, kenapa engkau menanyakan namaku?’ Ia menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang menurunkan air ini. Suara itu berkata, ‘Siramilah kebun si fulan! Dan itu adalah namamu. Apa sesungguhnya yang engkau lakukan?’ Ia menjawab, “Jika itu yang engkau tanyakan, maka sesungguhnya aku memperhitungkan hasil yang didapat dari kebun ini, lalu aku bersedekah dengan sepertiganya, dan aku makan beserta keluargaku seper tiganya lagi, kemudian aku kembalikan (untuk menanam lagi) sepertiganya’.” [30]

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).” [31]

Imam An-Nawawi berkata: “Hadits itu menjelaskan tentang keutamaan bersedekah dan berbuat baik kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Juga keutamaan seseorang yang makan dari hasil kerjanya sendiri, termasuk keutamaan memberi nafkah kepada keluarga.” [32]

8. Memberi Nafkah Kepada Orang yang Sepenuhnya Menuntut Ilmu Syariat (Agama)

Termasuk kunci-kunci rizki adalah memberi nafkah kepada orang yang sepenuhnya menuntut ilmu syariat (agama). Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya ia berkata:

“Dahulu ada dua orang saudara pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah seorang daripadanya mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [33] dan (saudaranya) yang lain bekerja [34]. Lalu saudaranya yang bekerja itu mengadu [35] kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda: Mudah-mudahan engkau diberi rizki dengan sebab dia.” [36]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia menjelaskan kepada orang yang mengadu kepadanya karena kesibukan saudaranya dalam menuntut ilmu agama, sehingga membiarkannya sendirian mencari penghidupan (bekerja), bahwa ia tidak semestinya mengungkit-ungkit nafkahnya kepada saudaranya, dengan anggapan bahwa rizki itu datang karena dia bekerja. Padahal ia tidak tahu bahwasanya Allah membukakan pintu rizki untuknya karena sebab nafkah yang ia berikan kepada suadaranya yang menuntut ilmu agama secara sepenuhnya.

Imam Al-Ghazali berkata: “Ia harus mencari orang yang tepat untuk mendapatkan sedekahnya. Misalnya para ahli ilmu. Sebab hal itu merupakan bantuan baginya untuk (mempelajari) ilmunya. Ilmu adalah jenis ibadah yang paling mulia, jika niatnya benar. Ibnu Al-Mubarak senantiasa mengkhususkan kebaikan (pemberiannya) bagi para ahli ilmu. Ketika dikatakan kepada beliau, “Mengapa tidak engkau berikan pada orang secara umum?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku tidak mengetahui suatu kedudukan setelah kenabian yang lebih utama daripada kedudukan para ulama. Jika hati para ulama itu sibuk mencari kebutuhan (hidupnya), niscaya ia tidak bisa memberi perhatian sepenuhnya kepada ilmu, serta tidak akan bisa belajar (dengan baik). Karena itu, membuat mereka bisa mempelajari ilmu secara sepenuhnya adalah lebih utama.” [37]

9. Berbuat Baik Kepada Orang-orang Lemah

Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa para hamba itu ditolong dan diberi rizki disebabkan oleh orang-orang yang lemah di antara mereka.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Bahwasanya Sa’d merasa dirinya memiliki kelebihan daripada orang lain. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Bukankah kalian ditolong [38] dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah di antara kalian?” [39]

Karena itu, siapa yang ingin ditolong Allah dan diberi rizki olehNya maka hendaknya ia memuliakan orang-orang lemah dan berbuat baik kepada mereka.”

Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, juga menjelaskan bahwa keridhaan-Nya Azza wa Jalla dapat diperoleh dengan berbuat baik kepada orang-orang miskin.

Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Darda’ bahwasanya ia berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Carilah (keridhaan)ku melalui orang-orang lemah di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rizki dan ditolong
dengan sebab orang-orang
lemah di antara kalian.” [40]

Menjelaskan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang miskin di antara kalian.” [41]

Dan barangsiapa berusaha mendapatkan keridhaan kekasih Yang Maha Memberi rizki dan Maha Memiliki kekuatan dan keperkasaan, Muhammad dengan berbuat kepada orang-orang miskin, niscaya Tuhannya akan menolongnya dari para musuh serta akan memberinya rizki.

10. Hijrah Di Jalan Allah

Allah menjadikan hijrah di jalan Allah sebagai kunci di antara kunci-kunci rizki. Yakni keluar dari negeri kafir ke negeri iman untuk mencari keridhaan Allah sesuai dengan syariatNya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.” (An-Nisa’ : 100)

Sungguh dunia telah dan sampai sekarang masih menyaksikan kebenaran janji ini. Dan saya kira, orang yang mengetahui sedikit tentang sejarah Islam pun sudah tahu akan peristiwa hijrahnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah.

Ketika para sahabat meninggalkan rumah-rumah, harta benda dan kekayaan mereka untuk hijrah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah serta merta mengganti semuanya. Allah memberikan kepada mereka kunci-kunci negeri Syam, Persia dan Yaman. Allah berikan kepada mereka kekuasaan atas istana-istana negeri Syam yang merah, juga istana Mada’in yang putih. Kepada mereka juga dibukakan pintu-pintu Shan’a, serta ditundukkan untuk mereka berbagai simpanan kekayaan Kaisar dan Kisra.

Imam Ar-Razi menjelaskan kesimpulan tafsir ayat yang mulia ini berkata: “Walhasil, seakan-akan dikatakan, ‘Wahai manusia! Jika kamu membenci hijrah dari tanah airmu hanya karena takut mendapatkan kesusahan dan ujian dalam perjalananmu, maka sekali-kali jangan takut! Karena sesungguhnya Allah akan memberimu berbagai nikmat yang agung dan pahala yang besar dalam hijrahmu. Hal yang kemudian menyebabkan kehinaan musuh-musuhmu dan menjadi sebab bagi kelapangan hidupmu.” [42]

Penutup

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahi hamba-Nya yang lemah ini sehingga bisa menyelesaikan tulisannya. Dan sungguh kepadaNya senantiasa diminta ampunan, kemurahan dan ijabah (pengabulan).

Kemudian saya wasiatkan kepada suadara-saudaraku di segenap penjuru dunia untuk tetap berpegang teguh dengan sebab-sebab rizki tersebut. Sebab kebaikan segala-galanya adalah dengan berpegang teguh terhadap apa yang disyariatkan Sang Pencipta dan keburukkan segala-galanya adalah dengan berpaling daripadanya. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia, ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124-126)

Semoga shalawat, salam dan keberkahan dilimpahkan kepada Nabi kita, kepada segenap keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Kemudian akhir dari doa kita adalah: “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”. (segala puji bagi Allah, Rabb se

Kunci2

adikan rizkiku melalui panahku.”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”

Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki.

Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para sahabat berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.” [12]

Syaikh Abu Hamid berkata: “Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah, meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari’at. Sedangkan syari’at memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula?

Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya.”

Imam Abul Qosim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdirNya, dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya.” [13]

Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah’.” [14]

Dan dalam riwayat Al-Qudha’i disebutkan:

“Amr bin Umayah radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Aku bertanya, ’Wahai Rasulullah, apakah aku ikat dahulu (tunggangan)ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?’ Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaran (unta)mu lalu bertawakkallah’.” [15]

Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.

4.Beribadah Kepada Allah Sepenuhnya

Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah sepenuhnya. Dan bukanlah yang dimaksud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud –wallahu a’lam– adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Maha Esa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Atau dengan kata lain adalah bersungguh-sungguh dalam mengkonsentrasikan hati ketika beribadah kepada Allah.

Diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar ia berkata, Rasulullah bersabda:

“Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah kepadaKu sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam, jangan jauhi Aku sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan.” [16]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia, yang berbicara berdasarkan wahyu mengabarkan tentang janji Allah, yang tak satu pun lebih memenuhi janji daripadaNya, berupa dua jenis pahala bagi orang yang benar-benar beribadah kepada Allah sepenuhnya. Yaitu, Allah pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki.

Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan akan ancaman Allah kepada orang yang menjauhiNya dengan dua jenis siksa. Yaitu Allah pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.

Dan semua mengetahui, siapa yang hatinya dikayakan oleh Yang Maha Memberi kekayaan, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh Yang Maha Memberi rizki dan Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya. Sebaliknya, siapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorangpun mampu membuatnya kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorangpun yang mampu memberinya waktu luang.

5. Melanjutkan Haji dengan Umrah atau Sebaliknya

Di antara perbuatan yang dijadikan Allah termasuk kunci-kunci rizki yaitu melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya.

Syaikh Abul Hasan As-Sindi menjelaskan tentang maksud melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya, ia berkata: “Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, di mana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umrah. Dan jika kalian menunaikan umrah maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti. [17]

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa, sebagaimana api dapat menghilangkan kotoran besi, emas dan perak. Dan tidak ada pahala haji yang mabrur [18] itu melainkan Surga.” [19]

Dalam hadits yang mulia tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang terpercaya, yakni berbicara dengan wahyu menjelaskan bahwa buah melanjutkan haji dengan umrah atau sebaliknya adalah hilangnya kemiskinan dan dosa.

Imam Ath-Thayyibi dalam menjelaskan sabda Nabi : “Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa,” dia berkata, “Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.” [20]

Maka orang-orang yang menginginkan untuk dihilangkan kemiskinan dan dosa-dosanya, hendaknya ia segera melanjutkan hajinya dengan umrah atau sebaliknya.

6. Silaturrahim

Di antara pintu-pintu rizki adalah silaturrahim. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim.” [21]

Dalam hadits yang mulia di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.

Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh makhluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. Demikianlah, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk hadits tersebut dengan “Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim.” [22] Artinya, dengan sebab silaturrahim. [23]

Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik dalam kitab shahihnya dan beliau memberi judul dengan: “Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim”. [24]

Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

“Sesungguhnya ketaatan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan).” [25]

Apa Saja Sarana untuk Silaturrahim?

Sebagian orang menyempitkan makna silaturrahim hanya dalam masalah harta. Pembatasan ini tidaklah benar. Sebab yang dimaksud silaturrahim lebih luas dari itu. Silaturrahim adalah usaha untuk memberikan kebaikan kepada kerabat dekat serta (upaya) untuk menolak keburukan dari mereka, baik dengan harta atau dengan lainnya.

Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: “Silaturrahim itu bisa dengan harta, dengan memberikan kebutuhan mereka, dengan menolak keburukan dari mereka, dengan wajah yang berseri-seri serta dengan doa.”

Makna silaturrahim yang lengkap adalah memberikan apa saja yang mungkin diberikan dari segala bentuk kebaikan, serta menolak apa saja yang mungkin bisa ditolak dari keburukan sesuai dengan kemampuannya (kepada kerabat dekat). [26]

7. Berinfak Di Jalan Allah

Di antara kunci-kunci rizki lainnya adalah berinfak di jalan Allah. Yaitu berinfak untuk sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah.

Firman Allah:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, niscaya Dia akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)

Syaikh Ibnu Asyur berkata: “Yang dimaksud dengan infak di sini adalah infak yang dianjurkan dalam agama. Seperti berinfak kepada orang-orang fakir dan berinfak di jalan Allah untuk menolong agama.” [27]

Dalam menafsirkan ayat di ata

Kunci-kunci Rizki Menurut Al Qur’an dan

Di antara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat Islam adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sejumlah umat Islam memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Tidak hanya sebatas itu, bahkan lebih parah dan menyedihkan lagi bahwa ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian hukum-hukum Islam, terutama yang berkenaan dengan halal dan haram. Continue reading →

Harta, Perisai Bagi Orang Mukmin

Lapangan kerja memang sempit jika pandangan kita tentang definisi bekerja juga sempit. Asal kita mau menanggalkan sikap gengsi, melupakan “gelar” dan segala atribul sosial yang kita miliki, sesungguhnya rezeki Allah Subhanahu wa Ta’ala terbentang luas di depan kita. Continue reading →

29 July, 2010 14:09

0)

Wasiat Ats-Tsauri menggambarkan betapa harta yang dimiliki seorang muslim bagaikan perisai yang membentengi diri dan agamanya agar tidak dijual karena harta. Kalau petuah ini disampaikan di masa kejayaan Islam dan Muslimin, lalu apa yang akan dikatakan di zaman ini yang manusianya kebanyakan tidak lagi memedulikan agamanya?!

Sesungguhnya ada pelajaran berharga dari kisah seorang wanita di zaman dahulu. Wanita itu terimpit ekonominya. Dia lalu mencari orang kaya untuk berutang darinya. Si kaya mau mengutangkan asal dia mau melayani nafsu bejatnya (berzina). Wanita tadi menolak dan akhirnya tidak mau meminjam. Kemudian hari berganti hari sampai kondisinya sangat kritis hingga ia datang lagi kepada si kaya tadi untuk pinjam uang. Si kaya mengatakan sama seperti dahulu, yakni asalkan dia mau berzina dengannya, ia akan memberikan pinjaman. Akhirnya wanita tadi dengan terpaksa mau menuruti nafsu jahatnya… (Lihat kisah ini dalam kitab Riyadhush Shalihin Bab Ikhlas)

Oleh karena itu, tidak sedikit dari salaf umat ini yang mereka bekerja untuk mencukupi dirinya beserta keluarganya. Demikian juga untuk menjaga kehormatan saudara-saudaranya dari kalangan ulama dan para penuntut ilmu. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Al-Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah. Ia banyak bershadaqah kepada orang-orang shalih agar mereka tidak menghinakan dirinya dengan meminta-minta atau mendapatkan pemberian dari orang yang jelek niatnya.

Akhirnya semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita orang yang menunaikan pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Bersemangatlah kamu terhadap yang bermanfaat bagimu dan jangan melemah.”

Semoga pula Allah Subhanahu wa Ta’ala menjauhkan kita dari apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala darinya seperti dalam doa beliau:

“Allahumma inni a’uudzubika minal ajzi wal kasal (Wahai Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan).” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 46/IV/1429 H/2008, hal. 40-43. Judul asli: Tidak Malu Mencari Nafkah yang Halal.

Adab Utang Piutang

Ulama menyebut akad peminjaman itu sebagai akad irfaq, yang berarti pemberian manfaat atau belas kasih. Oleh karenanya, memberikan pinjaman itu dianjurkan dalam Islam. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim yang lain dua kali kecuali seperti shadaqah satu kali.” (Shahih Lighairihi, HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 899) Continue reading →