Monthly Archives: November, 2010

Tanya Jawab Tentang Bid’ah2

ntis suatu rintisan yang baik dalam Islam maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang lain yang melakukan rintisannya.” [5]

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Ikutilah oleh kalian sunnahku dan sunnah para khalifah sesudahku yang lurus lagi terpimpin. Peganglah ia dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian. Waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” [6]

Bahwa yang dimaksud dengan merintis kebaikan haruslah ditempatkan sesuai dengan sebab munculnya hadits ini, yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan orang untuk memberi sedekah kepada kaum dari Bani Mudhar yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan sangat membutuhkan dan lapar. Oleh karena itu, datanglah seorang laki-laki Anshar membawa nampan perak penuh makanan, lalu ia letakkan di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda:

“Barangsiapa merintis suatu rintisan yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang lain yang melakukan rintisannya.”

Bila kita memahami sebab munculnya hadits ini maka kita dapat mendudukkan makna yang dimaksud bahwa yang dimaksud dengan merintis suatu amal kebajikan adalah yang bukan bersifat membuat syariat baru. Hal ini karena hak membuat syariat hanya ada pada Allah dan Rasul-Nya. Adapun yang dimaksud dengan merintis suatu rintisan adalah mempelopori amal kebajikan dan mengajak manusia untuk melakukannya. Oleh karena itu, orang seperti ini mendapat pahala dari kebaikan rintisannya dan dari orang lain yang mengikutinya. Itulah yang dimaksud oleh hadits tersebut. Kalimat ini dapat pula diartikan: “Barangsiapa membuat suatu sarana yang dapat dipakai untuk melakukan ibadah dan memberikan teladan kepada manusia untuk melaksanakan sesuatu yang baik, seperti mengarang kitab, menyusun sistematika ilmu, membangun sekolah-sekolah, dan lain-lain, yang menurut syariat merupakan jalan yang dibenarkan.” Jika seseorang merintis membuat sarana yang dapat digunakan untuk memenuhi hal-hal yang diperintahkan oleh syariat, bukan hal yang dilarang, maka usahanya itu termasuk dalam pengertian hadits ini.

Seandainya hadits di atas dapat dimaknakan bahwa manusia boleh membuat suatu urusan agama sesukanya maka hal itu berarti agama Islam ini di masa hayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum sempurna. Hal ini juga berarti tiap-tiap umat berhak membuat syariat dan jalan sendiri. Jika orang yang berbuat bid’ah mempunyai anggapan bahwa bid’ah seperti ini sebagai bid’ah yang baik maka anggapannya itu salah. Hal ini karena anggapannya itu telah dinyatakan sesat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sabdanya: “Setiap bid’ah itu sesat.” (Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fataawa wa Rasaail, juz 2, hlm. 295-296)

Catatan kaki:

[1] HR. Abu Dawud no. 3991 CD dan Nasa’i no. 1560 CD.

[2] HR. Abu Dawud no. 3991 CD.

[3] HR. Muslim no. 1691 CD.

[4] HR. Bukhari no. 5612 CD.

[5] HR. Muslim no. 1691 CD.

[6] HR. Abu Dawud no. 3991 CD.

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, disusun oleh Khalid Al-Juraisy (penerjemah: Ustadz Muhammad Thalib), penerbit: Media Hidayah cet. Pertama, Rajab 1424 H/September 2003, hal. 205-213.

Tanya Jawab Tentang Bid’ah

1. Pengertian Bid’ah

Soal: Syaikh yang mulia, apakah bid’ah itu?

Jawab:

Bid’ah telah dinyatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan karena setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.” Continue reading →

Bid’ah Sujud Setelah Selesai Shalat

Beberapa orang yang shalat melakukan sujud [1] satu kali setelah mereka selesai shalat. Dalam sujud itu mereka berdoa kepada Allah. Perbuatan mereka itu didasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Paling dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah pada saat ia sujud.” Continue reading →

Hipnotis 2 dan Perkataan: “Demi Hak Fula

Ketiga, perkataan orang: “Dengan hak Fulan,” boleh jadi bermakna sumpah. Maksudnya, aku bersumpah dengan hak Fulan terhadap diri anda. Boleh jadi juga berarti karena Fulan atau karena kebesarannya. Kedua pengertian tersebut tidak boleh dipakai.

Yang pertama, makhluk tidak boleh bersumpah atas nama makhluk. Dengan demikian, lebih terlarang bersumpah menggunakan makhluk untuk menggantikan Allah, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan bahwa bersumpah dengan selain Allah adalah syirik. Beliau bersabda:

“Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah maka ia telah berbuat syirik.” [4]

Yang kedua, para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bertawassul dengan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun keagungannya sepanjang hayat beliau maupun setelah beliau wafat. Para shahabat ini adalah orang yang paling mengerti kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sisi Allah dan keagungannya di sisi Allah serta manusia yang paling mengerti syariat. Para shahabat telah menghadapi beberapa bencana berat semasa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah wafatnya, namun mereka hanya berlindung dan memohon kepada Allah untuk menyingkirkan semua bencana itu. Sekiranya tawassul dengan diri atau keagungan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibenarkan, niscaya para shahabat diberi tahu.

Demikianlah, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan membiarkan suatu cara yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah melainkan pasti akan diajarkannya kepada manusia, sehingga mereka mengamalkan apa yang diridhai oleh Allah karena semangat untuk melaksanakan syariat Allah, khususnya di waktu menghadapi bencana berat. Tidak adanya pembenaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, petunjuk beliau, dan perbuatan para shahabat mengenai hal ini menunjukkan bahwa tidak boleh melakukan tawassul seperti itu.

Riwayat yang benar dari para shahabat bahwa mereka hanya bertawassul kepada Allah dengan memohon kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berdoa kepada Tuhannya supaya mengabulkan permintaan mereka. Hal ini terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, seperti pada peristiwa meminta hujan, dan sebagainya. Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, ketika ‘Umar keluar untuk meminta hujan, ia berkata:

“Ya Allah, kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi-Mu. Oleh karena, turunkanlah hujan kepada kami.” Rawi berkata: “Lalu mereka dituruni hujan.” [5]

Yang dimaksud dengan bertawassul kepada paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu meminta ‘Abbas, paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk berdoa kepada Tuhannya dan memohon hujan, bukan bertawassul dengan keagungan ‘Abbas, karena keagungan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih besar daripada keagungan ‘Abbas dan keagungan beliau ini tetap ada pada beliau walaupun beliau telah wafat. Sekiranya yang dimaksud adalah tawassul seperti ini, tentulah para shahabat akan bertawassul dengan keagungan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukan dengan ‘Abbas, tetapi para shahabat tidak melakukan hal seperth ini.

Selanjutnya, bertawassul dengan keagungan para nabi dan semua orang shalih merupakan salah satu jalan yang dekat kepada kesyirikan, seperti terbukti pada kenyataan dan pengalaman. Oleh sebab itu, tawassul seperti ini terlarang agar dapat menghindarkan diri dari perbuatan syirik dan melindungi tauhid.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

(Fataawa Lajnah Daaimah lil Buhutsil Ilmiyyah wal Ifta’, hlm. 400-402)

Catatan kaki:

[1] Ibnu Abi ‘Ashim no. 515 dalam As-Sunnah, Ibnu Khuzaimah juz 1/348-349 dalam Kitaabut Tauhid, Baihaqi no. 435 dalam Kitab Al-Asmaa’ wash Shifat, dan lain-lain. Pada sanad hadits ini terdapat rawi bernama Nu’aim bin Hammad seorang yang buruk hafalannya dan rawi lain bernama Al-Walid bin Muslim seorang mudallis (suka menyamarkan sanad hadits) dan ia dalam meriwayatkan hadits ini menggunakan kata ‘dari’.

[2] Bukhari no. 4701 dalam Kitaabut Tafsiir.

[3] Ahmad no. 3699, 273, dan 2804. Tirmidzi no. 2518 dalam Shifaatul Qiyaamah.

[4] Ahmad 2/125, Abu Dawud no. 3251 dalam Kitaabul Iman, dan Tirmidzi no. 1235 dalam Kitaabun Nudzur.

[5] Bukhari no. 1010 dalam Kitaabul Istisqaa’ dan no. 3710 dalam Kitaab Fadhaailish Shahaabah.

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci, disusun oleh Khalid Al-Juraisy (penerjemah: Ustadz Muhammad Thalib), penerbit: Media Hidayah cet. Pertama, Rajab 1424 H/September 2003, hal. 142-148.

Tanya Jawab Pakaian Wanita dalam Haji

• Hukum Wanita Melakukan Shalat dan Haji dalam Keadaan Memakai Kaos Tangan

Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya: Bagaimana hukum wanita melakukan shalat dan haji dalam keadaan memakai kaos tangan? Continue reading →

Beberapa Permasalahan Wanita dalam Ibada

• Seorang Wanita Memiliki 1000 Dirham, Apakah Dia Menunaikan Ibadah Haji dengannya atau Digunakan untuk Menikahkan Putrinya?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ditanya: Seorang perempuan memiliki uang 1000 dirham dan dia berniat akan menghadiahkan pakaiannya kepada anak putrinya, maka apakah yang lebih utama tetap memberikan perlengkapan rumah untuk anak putrinya atau dia menunaikan haji dengannya? Continue reading →

Ikonos