Monthly Archives: Juni, 2011

Kapan Muadzin Membaca Tatswib Subuh?

Oleh: Asy Syaikh Abdullah Al Mar’ie hafidhahullahu (Pimpinan Pondok Pesantren di Hadramaut, Syhr, Yaman)

Pertanyaan: Kami pernah membaca pendapat ulama tentang masalah tatswib (bacaan: “Asshalaatu khairun minan natm”, artinya: Shalat itu lebih baik daripada tidur) pada adzan subuh. Continue reading →

Iklan

Sahkah Suami Poligami Tanpa Izin Istri?

Oleh: Asy Syaikh Abdullah Al Mar’ie hafidhahullahu (Pimpinan Pondok Pesantren di Hadramaut, Syhr, Yaman)

Pertanyaan: Apabila seseorang ingin menikah untuk yang kedua kalinya, apakah disyaratkan minta izin kepada istrinya? Dan apabila pemerintah mensyaratkan demikian bagi yang ingin berpoligami apa sikap kami yang seharusnya? Continue reading →

4 Langkah Syar’i Menuju Jenjang Pernikah

Masih banyak orang salah paham mengenai proses menuju jenjang pernikahan. Mereka tidak tahu bagaimana syariat Islam yang sempurna ini telah mengajarkan jalan untuk mencari jodoh. Sehingga banyak di antara mereka terjatuh dalam hubungan yang tidak halal seperti pacaran atau tunangan. Menurut mereka, mencari jodoh itu perlu interaksi langsung yang tidak sebentar, bahkan bertahun-tahun. Continue reading →

Diwarnet:Fatwa Mengurus Jenazah

http://abusalma.wordpress.com/2007/02/16/fatwa-fatwa-tentang-memandikan-dan-mengkafani-jenazah/

1. Cara Memandikan dan Mengafani Jenazah

2. Kewajiban Siapa Pengurusan Jenazah itu?

3. Hukum Laki-laki Memandikan Jenazah Wanita atau Sebaliknya (dua soal)

4. Hukum Melepas Perhiasan Mayit
(dua soal)

5. Hukum Mencukur Rambut dan Kuku Mayit

6. Menandikan Jenazah yang Rusak karena Kecelakaan

7. Aurat Anak Kecil

8. Kain Kafan Selain Warna Putih

9. Jumlah Tali Kafan

10. Memandikan Orang yang Mati karena Bermaksiat
(dua soal)

11. Hukum Mandi & Wudhu setelah Mengurus Jenazah (dua soal)

Pengibaran Bendera Merah Putih Untuk Hari-Hari Besar Nasional Terkhusus HUT RI « Sunniy Salafy http://sunniy.wordpress.com/2011/06/07/pengibaran-bendera-merah-putih-untuk-hari-hari-besar-nasional-terkhusus-hut-ri/

Hukum Menyanyikan Lagu Kebangsaan dan Hormat Bendera « Sunniy Salafy http://sunniy.wordpress.com/2011/06/07/hukum-menyanyikan-lagu-kebangsaan-dan-hormat-bendera/

Adab4-adab Imam Dalam Shalat

] Dalilnya telah dipaparkan sebelumnya tentang dilarangnya imam berada di posisi yang lebih tinggi dari makmum, dan bila tempat imam hanya sedikit lebih tinggi dari makmum. Lihat Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu III: 48. Lihat juga Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ oleh Ibnu Utsaimin IV: 423-426.

[46] Lihat Mushannaf oleh Ibnu Abi Syaibah II: 59. Lihat juga Al-Inshaaf Fi Ma’rifatir Raajihi Minal Khilaf oleh Al-Mardaawi rahimahullahu yang dicetak bersamaan dengan Asy-Syarhul Kabir IV: 457-458. Lihat juga Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ IV: 427-428. Juga Hasyiyah Ibnu Qaasim terhadap Ar-Raudhul Murbi’ II: 351.

[47] Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 591. Telah ditakhrij sebelumnya pada bab: tata cara shalat nabi.

[48] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan nomor 845. Telah ditakhrij sebelumnya pada pembahasan keenam.

[49] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Bergeser dan berpaling dari shalat melalui kanan dan kiri, dengan nomor 852. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab: Dibolehkannya meninggalkan shalat melalui sebelah kanan dan kiri, dengan nomor 707.

[50] Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shalatul Musafirin, bab: Dibolehkannya berpaling dari shalat melalui sebelah kanan dan kiri, dengan nomor 708.

[51] Syarah Muslim oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu V: 227-228. Fathul Bari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu II: 338.

[52] Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan nomor 698. Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud I: 135, kata beliau: “Hasan shahih.” Telah ditakhrij sebelumnya pada bab: Tata cara shalat dan sutrah bagi orang yang shalat.

[53] Diriwayatkan oleh Al-Bukharh dengan nomor 493. Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 504. Telah ditakhrij pada bab: tata cara shalat.

[54] Lihat hadits-hadits tentang sutrah bagi orang shalat dalam tata cara shalat. Di situ penulis telah membeberkan sebagian di antaranya.

Sumber: Imam dalam Shalat Menurut Al-Qur’an & As-Sunnah karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, penerjemah: Abu Umar Basyir, penerbit: Pustaka An-Najiyah, Jkt. Cet. 1 Dzulhijjah 1423 H / Februari 2003, hal. 138-155.

Adab3-adab Imam Dalam Shalat

a diperlukan atau sama-sama tidak diperlukan maka yang lebih baik adalah sebelah kanan berdasarkan keumuman hadits-hadits yang secara tegas menceritakan keutamaan ‘kanan’ dalam hal yang berkaitan dengan kemuliaan dan sejenisnya. Inilah pendapat yang paling tepat berkaitan dengan kedua hadits ini. Ada juga pendapat yang berlawanan dengan pendapat yang benar ini. Wallahu a’lam.” [51]

33. Membuat sutrah (penghalang di depan), karena akan menjadi sutrah baginya dan bagi para makmum di belakangnya.

Dasarnya ialah hadits Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, hendaknya ia shalat menghadap sutrah dan hendaknya mendekat ke arah sutrah tersebut.” [52]

Demikian juga karena Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah berjalan menunggang keledainya di depan sebagian shat, kemudian beliau turun dari keledainya. Dan tak seorang pun menyalahkan beliau. [53] Karena sutrah bagi imam adalah sutrah bagi para makmum yang berada di belakangnya. [54]

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab dan bab: Kalau shalat sendiri silakan memanjang shalatnya sekehendak hati, dengan nomor 703. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah, bab: Perintah bagi para imam untuk melakukan shalat dengan ringkas namun tetap sempurna, dengan nomor 467, dan lafazh ini adalah lafazh Muslim.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan lafazhnya, dalam kitab Al-Adzan, bab: Orang yang mengadu bahwa imamnya terlalu panjang, dengan nomor 795. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah bab bacaan shalat Isya dengan nomor 465.

[3] Yang menyebutkan hal-hal yang membuat orang lain takut atau benci sehingga membuat orang menghindarinya. Lihat Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsier V: 591.

[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Imam melaksanakan shalat dengan ringkas namun tetap melakukan ruku’ dan sujud dengan sempurna, dengan nomor 466. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah, bab: Imam diperintahkan untuk melakukan shalat dengan ringkas namun sempurna, dengan nomor 466. Yang ada di antara dua kurung dari riwaya Al-Bukhari, dengan nomor 90.

[5] Artinya, melakukannya dengan mudah dan ringan. Lihat Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsier V: 591.

[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan. Bab: Imam yang melakukan shalat ringkas karena mendengar tangisan bayi, dengan nomor 707. Diriwayatkan juga dengan shahih dari Anas oleh Al-Bukhari, dengan nomor 709. Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 473.

[7] Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah, bab: Imam diperintah untuk shalat dengan ringkas tapi sempurna, dengan nomor 468.

[8] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Shalat ringkas dan sempurna, dengan nomor 706. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah, bab: Imam diperintah untuk shalat ringkas tapi sempurna, dengan nomor 469.

[9] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab Al-Imamah, bab: Keringanan bagi imam untuk shalat ringkas, dengan nomor 826. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i I: 272.

[10] Lihat Zadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim rahimahullahu I: 214.

[11] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan nomor 703. Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 467. Telah ditakhrij sebelumnya pada bab: Adab-adab imam.

[12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan nomor 707. Telah ditakhrij sebelumnya pada awal bab imam.

[13] Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ oleh Ibnu Utsaimin rahimahullahu I: 271.

[14] Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah, bab: Bacaan pada waktu Zhuhur dan Ashar, dengan nomor 454.

[15] Lihat Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ oleh Ibnu Utsaimin rahimahullahu IV: 275-276.

[16] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Memperpanjang dua rakaat pertama dan memperpendek dua rakaat terakhir, 770. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ash-Shalah, bab: Bacaan pada shalat Zhuhur dan Ashar, dengan nomor 453.

[17] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan nomor, 560. Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 646. Telah ditakhrij sebelumnya pada bab syarat-syarat shalat.

[18] Lihat Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ oleh Ibnu Utsaimin rahimahullahu IV: 276-277.

[19] Lihat Hasyiyah Ibnu Qaasim terhadap Ar-Raudhul Murbi’ II: 291-292. Lihat Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ oleh Ibnu Utsaimin rahimahullahu IV: 276-283.

[20] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Ash-Shalah, bab: Imam melakukan shalat sunnah di tempat ia shalat wajib, dengan nomor 616. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Ash-Shalah, bab: Riwayat tentang shalat sunnah di tempat shalat wajib dengan nomor 1428, dinyatakan shahih oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Misykatul Mashabih I: 300, setelah beliau menyebutkan bahwa hadits itu cacat dan terputus, beliau menyatakan: “Akan tetapi hadits itu shahih, karena hadits itu memiliki dua riwayat lain sebagai penguat yang sudah saya sebutkan dalam Shahih Abu Daud 629.” Al-Albani juga menyatakan shahih berdasarkan dua penguat ini dalam Shahih Sunan Abu Daud I: 184 Shahih Sunan Ibnu Majah I: 429. Penulis pernah mendengar Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menyatakan dalam menjelaskan Al-Muntaqa Min Akhbaril Mushthafa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu hadits nomor 1503: “Hadits ini lemah, akan tetapi maknanya benar. Oleh sebab itu diriwayatkan dengan shahih dari Ali bahwa beliau berkata: “Termasuk ajaran sunnah bila imam itu tidak shalat sunnah di tempat ia shalat wajib, tetapi hendaknya ia bergeser agar tidak ada orang yang berprasangka bahwa ia shalat wajib. Itu lebih baik baginya (dan termasuk ajaran sunnah).”

[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dalam kitab Ash-Shalawat, bab: Pendapat yang memakruhkan imam shalat sunnah di tempat ia shalat wajib II: 209.

[22] Op. cit.

[23] Op. cit.

[24] Op. cit.

[25] Al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu II: 335.

[26] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Imam tetap di tempatnya sebelum salam, sebelum hadits nomor 848, dan dengan nomor bab 157.

[27] Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu II: 335. Lihat juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah II: 209-210.

[28] Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu II: 257-258.

[29] Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu II: 335.

[30] Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 883. Telah ditakhrij sebelumnya pada bab: Shalat sunnah: Memisahkan antara shalat wajib dengan shalat sunnah dengan bergeser atau berbicara.

[31] Syarah Mus5im oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu VI: 420.

[32] Fathul Bari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu II: 335.

[33] Fathul Bari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu II: 335.

[34] Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan nomor 1006. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan nomor 1427. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya II: 425, dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud I: 279, cetakan baru dan cetakan lama I: 188. Penulis pernah mendengar Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu menjelaskan Al-Muntaqa Min Akhbaril Mushthafa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu hadits nomor 1504: “Hadits ini lemah, akan tetapi sebagian ulama As-Salaf biasa bergeser tempat, karena mereka ingin memperbanyak tempat ibadah. Ibnu Umar pernah berdzikir di tempat beliau shalat wajib. Namun diriwayatkan juga oleh Abu Daud bahwa beliau juga bergeser tempat pada hari Jum’at. Yang mau bergeser tempat tidak menjadi masalah, tetapi yang mau tetap di tempatnya juga tidak apa-apa. Masalahnya cukup fleksibel, baik setelah shalat wajib maupun shalat sunnah.

[35] Diriwayatkan oleh Muslim dengan nomor 883. Telah ditakhrij sebelumnya pada bab shalat sunnah.

[36] Nailul Authar oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullahu II: 446.

[37] Telah diulas sebelumnya disertai dengan dalil-dalil dalam membedakan antara shalat sunnah rawatib dengan shalat wajib dengan cara bergeser atau berbicara pada bab shalat sunnah. Untuk menambah pelajaran, silakan baca Fathul Bari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu II: 335. Juga Al-Mushannaf oleh Ibnu Abi Syaibah II: 208-210. Juga Nailul Authar oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullahu II: 445-446. Lalu Subulus Salam oleh Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu III: 182-183. Dan juga Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu II: 257-258. Asy-Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni’ IV: 429-430. Lalu Hasyiyah Ibnu Qaasim terhadap Ar-Raudhul Murbi’ II: 352.

[38] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Salam, dengan nomor 837, juga bab: Imam berdiam sejenak di tempat dia shalat sesudah salam engan nomor 849, 850.

[39] Fathul Bari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu II: 336.

[40] Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab As-Sahwi, bab: Imam duduk setelah salam dan selesai shalat, dengan nomor 1333. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasa’i I: 428.

[41] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Adzan, bab: Imam menghadap ke arah makmum bila sudah salam, dengan nomor 845.

[42] Fathul Bari oleh Ibnu Hajar rahimahullahu II: 334.

[43] Arti ‘tidak mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain’, yakni para makmum yang shalat di belakangnya, seperti doa qunut dan yang lainnya. Wallahu a’lam. Demikian yang telah kami dengar dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

[44] Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan nomor 91, dan hadits ini memiliki riwayat penguat dari At-Tirmidzi, dengan nomor 357. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad-nya II: 250, dari hadits Tsauban. Al-Albani rahimahullahu menyatakan dalam Shahih Sunan Abu Daud I: 35: “Shahih, kecuali kalimat: ‘Dakwah’. Telah ditakhrij sebelumnya pada bab: Tamu menjadi imam.

[45

Adab2-adab Imam Dalam Shalat

ari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Janganlah seorang imam shalat di tempat dia shalat wajib,” tetapi riwayat itu tidak shahih. [26]

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu menyatakan: “Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Ali bahwa beliau berkata: “Termasuk ajaran sunnah bila seorang imam tidak melakukan shalat sunnah sebelum ia bergeser dari tempat melakukan shalat wajib.” [27]

Sementara Imam Ibnu Qudamah juga menceritakan dalam Al-Mughni dari Imam Ahmad bahwa beliau tidak menyukai perbuatan imam seperti itu.” [28]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menandaskan: “Tujuan dimakruhkannya imam shalat sunnah di tempat ia shalat wajib adalah karena dikhawatirkan tidak dapat dibedakan antara shalat wajib dengan shalat sunnah..” [29]

Dari As-Sa’ib bin Yazid diriwayatkan bahwa Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya: “Kalau engkau selesai mengimami shalat Jum’at, janganlah engkau shalat sunnah sebelum engkau berbicara atau bergeser dari tempatmu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan kita demikian, agar tidak melakukan shalat sunnah setelah shalat wajib sebelum berbicara atau bergeser.” [30]

Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Ini mengandung dalil yang menunjukkan kebenaran pendapat sahabat-sahabat kami bahwa shalat sunnah rawatib dan shalat sunnah lainnya, disunnahkan untuk dilaksanakan di tempat yang berbeda dengan shalat wajib. Dan lebih baik lagi bila dilakukan di rumah, atau paling tidak di tempat lain di masjid atau di luar masjid agar bisa dibedakan bentuk shalat sunnah dengan shalat wajib. Arti ucapan: “…sebelum berbicara,” menunjukkan bahwa pemisahan antara shalat wajib dengan shalat sunnah bisa juga dilakukan dengan berbicara. Akan tetapi lebih baik bila dilakukan dengan cara bergeser, berdasarkan apa yang telah kami jelaskan. Wallahu a’lam. [31]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyatakan: “Hadits itu mengandung bimbingan agar tidak terjadi kerancuan. Demikianlah seluruh hadits-hadits terdahulu harus ditafsirkan, dan secara akumulatif ditafsirkan: bahwa kondisi imam berbeda-beda, karena shalat wajib itu juga ada yang disyariatkan shalat sunnah rawatib sesudahnya dan ada juga yang tidak. Jenis shalat wajib yang pertama juga masih diperdebatkan oleh para ulama, apakah sebelum melakukan shalat sunnah seorang imam boleh disibukkan oleh dzikir-dzikir yang disyariatkan atau tidak? Pendapat kedua ini adalah pendapat mayoritas ulama. Sementara kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa shalat sunnah harus dilakukan terlebih dahulu. Mayoritas ulama ber alasan dengan hadits Muawiyah. Namun bisa dikatakan bahwa pemisahan antara shalat sunnah dengan shalat wajib itu tidak hanya bisa dilakukan dengan berdzikir saja, tetapi cukup dengan bergeser dari tempat semula sudah cukup. Kalau ada yang bertanya, bukankah hadits tentang bergeser itu tidak shahih? Kita jawab, bahwa dalam hadits Muawiyah telah disebutkan: “..atau keluar (bergeser).” [32]

Namun pendapat yang tepat adalah mendahulukan dzikir yang disunnahkan dengan penjelasan tambahan dari berbagai riwayat shahih tentang dzikir-dzikir itu seusai shalat langsung.” Kemudian beliau (Ibnu Hajar) berkata: “Adapun shalat yang tidak disyariatkan shalat sunnah rawatib sesudahnya, boleh saja imam dan para makmumnya menyibukkan diri dengan membaca dzikir-dzikir yang disunnahkan, tidak ditetapkan tempatnya, bila mau mereka bisa bergeser terlebih dahulu lalu berdzikir, tetapi kalau mereka mau mereka juga bisa tetap di tempat mereka dan berdzikir..” [33]

Dari Abu Hurairah diriwayatkan secara marfu’:

“Apakah kalian tidak mampu untuk maju atau mundur, bergeser ke kanan atau ke kiri setelah shalat?” Yakni untuk berdzikir. [34]

Sementara Imam Asy-Syaukani rahimahullahu telah membicarakan hadits Al-Mughirah dan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyatakan: “Kedua hadits ini menunjukkan disyariatkannya orang yang shalat untuk bergeser tempat usai shalat pada setiap shalat sunnah yang dilakukannya. Adapun imam, melakukan itu dengan nash hadits pertama dengan keumuman hadits kedua. Sementara makmum maupun orang yang shalat sendiri melakukan itu dengan keumuman hadits kedua saja dan dengan qiyas terhadap imam. Alasannya adalah untuk memperbanyak lokasi ibadah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Bukhari dan Al-Baghawi: “Karena semua lokasi sujud itu akan menjadi saksi ibadah.” Alasan ini mengharuskan orang yang shalat sunnah untuk bergeser bila akan shalat wajib, demikian juga ia harus bergeser untuk melaksanakan shalat sunnah lainnya. Kalau tidak bergeser, bisa digantikan dengan berbicara. Dasarnya adalah hadits yang melarang menyambungkan shalat dengan shalat sebelum bergeser atau berbicara. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud. [35] Wallahu a’lam [36] wa ahkam [37].

6. Diam di tempat sejenak setelah salam.

Dasarnya adalah hadits Ummu Salamah yang menceritakan: “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apabila salam (dalam shalat), kaum wanita berdiri ketika beliau selesai salam, lalu beliau diam sejenak sebelum berdiri.” Dalam lafazh lain disebutkan: “Ketika Rasulullah salam, kaum wanita bergerak keluar masjid dan menuju rumah-rumah mereka sebelum Rasulullah bergerak bangkit.”

Ibnu Syihab: “Saya berpendapat bahwa senjang waktu ketika Rasulullah diam adalah untuk memberi kesempatan kaum wanita keluaq sehingga tidak sempat terlihat oleh makmum yang hendak bergerak keltar.” [38]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyatakan: “Hadits itu mengindikasikan bahwa seorang imam itu harus memperhatikan kondisi makmum, dan berwaspada menghindari segala hal yang dapat menggiring kepada perbuatan haram. Hadits itu juga mengindikasikan agar kita menghindari tempat terjadinya fitnah, khawatir bercampurnya kaum lelaki dengan kaum wanita di jalan menuju rumah-rumah mereka.” [39]

Sementara dalam lafazh An-Nasa’i menyebutkan: “Bahwa kaum wanita di zaman Rasulullah apabila salam langsung bangkit meninggalkan shalat, sementara Rasulullah bersama para makmum lelaki tetap di tempat mereka sampai batas waktu tertentu. Apabila Rasulullah bangkit, para makmum lelaki juga ikut bangkit bersama beliau.” [40]

7. Menghadap ke arah makmum seusai salam.

Dasarnya adalah hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Dahulu apabila Rasulullah selesai melaksanakan shalat, beliau menghadap ke arah kami.” [41]

Artinya, apabila beliau selesai shalat dan salam, beliau menghadap ke arah makmum. Karena posisi imam yang membelakangi makmum adalah karena posisinya sebagai imam. Kalau sudah selesai shalat, hak untuk membelakangi makmum itu sudah tidak ada lagi. Maka dengan menghadap ke arah makmum pada saat itu, akan tertepislah kesombongan dan sikap takabbur di hadapan makmum. Wallahu a’lam. [42]

8. Imam tidak boleh mengkhususkan doa baginya, lalu diamini oleh para makmum sekalian.

Dasarnya adalah hadits Abu Hurairah secara marfu’ (bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda):

“Dan tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk mengimami sekelompok orang tanpa izin mereka. Dan janganlah ia mengkhususkan doa untuk dirinya sendiri tanpa melibatkan orang lain… [43] Kalau ia melakukan hal itu juga, berarti ia telah berkhianat kepada mereka.” [44]

9. Imam tidak boleh shalat di tempat yang terlalu tinggi dibandingan dengan tempat makmum, kecuali kalau ada sebagian shaf bersama imam, bila demikian tidak menjadi masalah. Adapun makmum, tidak dilarang kalau berada di tempat yang lebih tinggi dari tempat imam. [44]

10. Imam tidak boleh berada di tempat yang tidak terlihat oleh seluruh makmum. [46]

11. Tidak terlalu lama duduk menghadap kiblat setelah salam.

Dasarnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang menceritakan: “Rasulullah biasanya hanya duduk sebatas beliau bisa mengucapkan:

‘Allahumma antassalam wa minkas salaam tabarakta ya dzal jalali wal ikram.’ [47]

Kemudian beliau langsung menghadap ke arah makmum sebagaiman disebutkan dalam hadits Samurah radhiyallahu ‘anhu.” [48]

12. Menghadap ke arah makmum setelah salam, terkadang melalui kanan dan terkadang melalui kiri.

Kedua-duanya tidak menjadi masalah. Dasarnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Janganlah seorang di antara kalian memberikan sebagian shalatnya kepada setan kalau ia berpandangan bahwa ia hanya berpaling dari shalatnya melalui sebelah kanan. Karena aku melihat seringkali Rasulullah berpaling melalui sebelah kiri.” Dalam lafazh Muslim disebutkan: “Kebanyakan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berpaling dari shalatnya melalui sebelah kiri.” [49] Dari Anas bin Malik diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Adapun saya, kebanyakan yang saya lihat, Rasulullah meninggalkan shalat melalui sebelah kanan beliau.” Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Rasulullah biasa berpaling dari shalat melalui sebelah kanannya.” [50]

Imam An-Nawawi rahimahullahu menandaskan: “Cara mengorelasikan antara kedua hadits tersebut adalah bahwa Rasulullah terkadang melakukan yang pertama (berpaling dari kanan) dan terkadang yang kedua (dari sebelah kiri). Masing-masing sahabat menceritakan mana yang menurut pendapatnya lebih sering dilakukan oleh Rasulullah sebatas yang dia ketahui, sehingga menunjukkan kedua-duanya boleh. Tidak ada yang dilarang. Adapun konsekuensi ucapan Ibnu Mas’ud yang mengatakan dilarang, bukanlah karena asal dari berpaling dari shalat melalui sebelah kanan atau kiri, tetapi itu bagi yang berpendapat bahwa itu satu keharusan. Kalau seseorang yakin bahwa salah satu dari keduanya itu wajib, maka ia keliru. Oleh sebab itu beliau menjelaskan: “…kalau ia berpandangan bahwa ia hanya berpaling dari shalatnya melalui sebelah kanan.”

Beliau mengecam orang yang mengharuskan demikian. Madzhab kami adalah bahwa tidak ada salah dari kedua cara itu yang dilarang. Akan tetapi disunnahkan berpaling melalui arah yang diperlukan, melalui kanan atau melalui kiri. Kalau kedua arah itu sama-sam