Monthly Archives: Agustus, 2011

Tuntunan Berhias

Alhamdulillah, agama kita yang mulia ini begitu sempurnanya. Allah menurunkan melalui perantara Rasul-Nya untuk mengatur kehidupan umat manusia yang akhirnya akan membawa kebaikan bagi mereka. Tak ada yang terluput dari syariat ini sedikit pun. Barangsiapa ia mengamalkan ia akan beroleh pahala, dan siapa yang enggan ia bakal menyesal.

Inilah sajian dari kami, rangkuman artikel seputar tuntunan berhias dalam Islam. Semoga bermanfaat.

Manakah Aurat Lelaki?
Hukum Memasukkan Kemeja dalam Celana
Afdhol Mana, Kumis Dicukur Habis atau Dipendekkan?
Hukum Sutra Sintetis
Hukum Menghadiahi Minyak Wangi Kepada Wanita yang Suka Keluar Rumah
Hukum Memakai Arloji di Tangan Kanan
Hukum Pijat Spa
Tentang Wanita yang Bersuara Lembut
Hukum Memakai Make-Up bagi Wanita
Hukum Memakai Celak Mata
Hukum Memasang Gigi Emas
Hukum Operasi Plastik
Hukum Melubangi Telinga dan Hidung Bayi Perempuan untuk Perhiasan
Hukum Memasang Susuk Pada Tubuh
Bolehkah Hijab dan Cadar Berwarna Cerah?
Hukum Kosmetika Pemutih Wajah
Selop Bertumit Tinggi, Bolehkah?
Hukum Wanita Memperdengarkan Suaranya?
Meluruskan Hukum Rebounding?
Menjual Pakaian Wanita dan Majalah Mode
Hukum Olah Raga bagi Wanita
Hukum Laki-laki Memakai Kalung
Menguburkan Rambut yang Sudah Dipangkas
Hukum Laki-Laki Memanjangkan Rambut, Memakai Kalung dan Gelang
Bolehkah Membuka Hijab di Hadapan Waria?
Hukum Tato
Membuka Cadar karena Takut Orang Tua
Malu Bercadar karena Ilmu Masih Sedikit
Hukum Membuka Hijab di Hadapan Wanita Non Muslimah
Hukum Berpenampilan dan Berperilaku seperti Lawan Jenis
Hukum Menghilangkan Rambut di Tangan dan Kaki
Fatwa Ulama Seputar Hukum Isbal
Hukum Suara Wanita di Radio dan Telepon
Batas Aurat Wanita Muslimah di Hadapan Wanita Lainnya
Hukum Memanjangkan Kuku
Bolehkah Menumbuhkan Jenggot dengan Obat-obatan?
Hukum Memotong Jenggot
Bolehkah Seorang Akhwat Mengenakan Jilbab Berwarna Kuning atau Merah?
Apakah Jilbab Harus Berwarna Hitam?
Jenggot dan Cadar adalah Syi’ar Islam, Bukan Teroris!
Uban, Cahaya Mukmin di Hari Kiamat
Larangan Mencabut Uban
Larangan Menyemir Rambut Dengan Warna Hitam
batas-aurat-laki-laki/Batas Aurat Laki-laki
Batasan Memotong Kumis Bagi Kaum Laki-laki
Tatacara Menghilangkan Rambut Kemaluan dan Ketiak Berdasarkan Sunnah Nabi
Hukum Memotong Kuku Di Hari Jum’at
Hukum Memakai Perhiasan Emas yang Melingkar
Jilbab Sesuai Syariat

Iklan

FATAWA: Penyimpangan Terhadap Al-Qur’an

Banyak sekali kesalahan yang terjadi di masyarakat kita berkaitan dengan Al-Qur’an. Amalan-amalah salah tersebut bukan sekedar dianggap sebagai tradisi dan adat istiadat, namun lebih jauh bahwa semua itu diyakini sebagai bagian dari agama, yang menyebabkan dosa dan cela bila tidak dikerjakan. Continue reading →

Laman: 1 2

Fatawa4: alqur’an

g, maka perbuatan tersebut tidak diingkari. (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, dari salah satu kasetnya yang telah dimuraja’ah dan ditashih oleh beliau)

4. Bacaan Al-Fatihah untuk Kedua Orang Tua

Membacakan surat Al-Fatihah untuk kedua orang tua yang telah meninggal atau yang lain merupakan perbuatan bid’ah karena tidak ada dasarnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, bahwasanya Al-Fatihah boleh dibacakan untuk orang yang meninggal atau arwah mereka, baik itu orang tuanya atau orang lain. Yang disyariatkan adalah mendoakan bagi kedua orang tua dalam shalat atau sesudahnya, memohonkan ampunan dan maghfirah bagi keduanya dan sejenisnya yang termasuk doa yang bisa bermanfaat bagi yang sudah meninggal. (Fatawa Syaikh Al-Fauzan, Nur ‘Alad Darbi, juz III, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah)

Catatan kaki:
[1] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1718, jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur’ dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2697, dalam Al-Shulh bab ‘Idzash Thalahu ‘ala Shulhin Juur Fash Shulh Mardud’ dan Muslim no. 1718, jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur’ dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[3] Diriwayatkan oleh Muslim no. 867, 43, dalam Kitab Jum’ah, bab “Memendekkan Shalat dan Khutbah’.

[4] Potongan hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i no. 1577, kitab Khutbah, bab “Tatacara Khutbah” dari hadits Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu.

[5] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1718, jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab ‘Naqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur’ dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Sumber: Penyimpangan Terhadap Al-Qur’an oleh Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz (penerjemah: Ahmad Amin Sjihab, muraja’ah: Aman Abdurrahman, Lc), penerbit: Darul Haq, cet. II, Muharram 1423 H/ April 2002 M, hal. 36-41.

Laman: 1 2

FATAWA3: Penyimpangan Terhadap Al-Qur’an

dhiyallahu ‘anhu memberikan upah kepada para mujahidin dan orang-orang yang berjasa bagi Islam, diambilkan dari uang Baitul Maal berdasarkan besarnya jasa dari masing-masing mereka, yang diberikan kepada kaum muslimin dengan mendatangkan suatu manfaat yang luas. Terlebih lagi, bahwasanya Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah menentukan bagian bagi orang yang bertugas untuk mengumpulkan dan mengelola zakat meskipun mereka termasuk orang kaya, karena mereka telah berbuat suatu kewajiban Islam kepada kaum muslimin baik yang maupun yang kaya. Kesibukan mereka mengurusi zakat menjadikan mereka tidak sempat mengurusi penghidupan bagi diri mereka sendiri. (Fatawa Lajnah Da’imah, no. 179)

2. Mengupah Qari’ untuk Membaca Al-Qur’an

Mengupah seorang qari’ untuk membacakan Al-Qur’an bagi orang yang telah meninggal termasuk bid’ah dan makan harta manusia dengan tidak benar. Karena bila seorang qari’ membacakan Al-Qur’an dengan tujuan untuk mendapatkan upah atas bacaannya, maka perbuatannya termasuk kebatilan, karena ia menginginkan harta dan kehidupan dunia dari perbuatannya tersebut. Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)

Perkara ibadah -termasuk membaca Al-Qur’an- tidak boleh dilakukan dengan tujuan duniawi dan mencari harta, akan tetapi harus dilakukan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Seorang qari’ yang membaca Al-Qur’an dengan diupah, maka tiada pahala baginya, dan bacaannya tidak akan sampai kepada orang yang telah meninggal. Harta yang dikeluarkan merupakan harta yang sia-ria, tidak bermanfaat. Kalaulah harta itu digunakan untuk suatu sedekah atas nama orang yang meninggal, sebagai ganti dari mengupah seorang qari’, maka inilah perbuatan yang disyariatkan dan bisa mendatangkan suatu manfaat bagi orang yang telah meninggal.

Maka menjadi kewajiban bagi para qari’ untuk mengembalikan harta yang telah mereka peroleh dari manusia sebagai upah atas bacaan yang mereka lakukan atas orang yang telah meninggal, karena menggunakan harta tersebut tergolong makan harta manusia dengan cara tidak benar. Dan hendaknya mereka takut kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan memohon kepada-Nya untuk memberikan rizki kepada mereka dengan cara selain cara yang haram tersebut.

Bagi setiap muslim hendaknya tidak makan harta manusia dengan cara yang tidak disyariatkan sedemikian ini. Benar bahwa membaca Al-Qur’an termasuk salah satu ibadah yang utama, barangsiapa membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan mendapatkan balasan sepuluh kali lipat. Tapi itu bagi orang yang niatnya benar dan hanya menginginkan keridhaan Allah semata serta tidak menginginkan suatu tujuan duniawi.

Mengupah seorang qari’ untuk membacakan Al-Qur’an bagi orang yang telah meninggal: Pertama, termasuk perbuatan bid’ah, karena tidak ada dari para salaf shalih yang melakukannya. Kedua, bahwa perbuatannya termasuk memakan harta manusia dengan cara tidak benar, karena suatu ibadah dan ketaatan tidak boleh mengambil upah karenanya. (Fatawa Syaikh Al-Fauzan, Nur ‘Alad Darbi, juz I, I’dad Fayis Musa Abu Syaikhah)

3. Mengupah Qari’ untuk Membacakan Al-Qur’an Pada Acara-acara Perayaan dan Sejenisnya

Membaca Al-Qur’an termasuk ibadah mahdhah dan cara seorang hamba untuk mendekatkan dirinya kepada Rabbnya. Pada dasarnya dalam membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah mahdhah lainnya, hendaknya seorang muslim melakukannya untuk mencari keridhaan Allah dan pahala yang disediakan di sisi-Nya, dan tidak untuk mencari balasan atau ucapan terima kasih dari makhluk. Karena itu kita tidak mendapatkan riwayat yang menyatakan bahwa para salafus shalih mengupah para qari’ untuk membacakan Al-Qur’an dalam acara-acara dan perayaan-perayaan walimah, juga tidak kita dapatkan ada salah seorang imam yang menganjurkannya atau memberi keringanan padanya. Tidak ada cerita bahwa seseorang di antara mereka mengambil upah atas bacaan Al-Qur’an yang dibacakan pada acara perayaan dan pesta. Akan tetapi mereka membacakan Al-Qur’an untuk mencari pahala yang disediakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala di sisi-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam telah memerintahkan kepada manusia yang membaca Al-Qur’an untuk meminta kepada Allah dan memperingatkan agar tidak meminta kepada manusia.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya dari Umran bin Hushain, bahwasanya ia melewati seorang hakim (qadhi) yang sedang membaca Al-Qur’an, kemudian ia meminta-minta, maka Umran bin Hushain mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” kemudian berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an hendaknya ia meminta kepada Allah dengannya, karena sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Qur’an yang dengannya mereka meminta-minta kepada manusia.”

Adapun mengambil upah atas pekerjaan mengajarkan Al-Qur’an atau me-ruqyah dan sejenisnya, yang mana manfaatnya tidak terbatas pada pembacanya saja, maka telah ada hadits-hadits shahih yang menunjukkan kebolehannya, seperti hadits Abu Sa’id yang mengambil sejumlah kambing karena ia telah menyembuhkan seseorang dengan me-ruqyahnya dengan surat Al-Fatihah. Juga hadits riwayat dari Sahl tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang menikahkan seorang wanita dengan laki-laki dengan mahar mengajarkan Al-Qur’an. Barangsiapa mengambil upah atas bacaan Al-Qur’an atau mengupah sekumpulan orang untuk membacakan Al-Qur’an, maka perbuatan ini telah menyalahi ijma’ para salaf shalih ridhwanullah ‘alaihim. (Fatawa Lajnah Da’imah, no. 1268)

Sumber: Penyimpangan Terhadap Al-Qur’an oleh Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz (penerjemah: Ahmad Amin Sjihab, muraja’ah: Aman Abdurrahman, Lc), penerbit: Darul Haq, cet. II, Muharram 1423 H/ April 2002 M, hal. 29-35.

Laman: 1 2

FATAWA2: Penyimpangan Terhadap Al-Qur’an

u lain membaca hadits-hadits shahih dan pada saat lainnya membaca pepatah atau kata-kata mutiara yang tidak bertentangan dengan syariat, atau pada kesempatan lain membaca nasyid Islami. (Lihat Fatawa Lajnah Da’imah no. 8777)

Catatan kaki:
[1] Diriwayatkan oleh Abu Daud no. 4607 dalam kitab Sunnah, bab Fil Luzuumis Sunnah; Ibnu Majah, no. 42 dalam Al-Muqaddimah, bab ‘Ittiba’ul Khulafa’ir Rasyidinal Madiyyin, dari hadits Al-Irbadh radhiyallahu ‘anhu. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2676 dalam Al-Ilmu bab Maa Jaa’a fil Akhdzi bis Sunnati Wajtinabil Bida’, ia mengatakan: “Hadits ini hasan shahih,” Al-Arna’uth berkata: “Sanadnya hasan.” Lihat Syarhus Sunnah, 1/205 hadits no. 102.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2697 dalam Al-Shulh bab Idza Ishthalahu ‘ala Shulhin Juur Fash Shulh Mardud dan Muslim no. 1718, jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab Naqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[3] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1718, jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab Naqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[4] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5050, dalam Fadhailul Qur’an, bab “Barangsiapa senang mendengarkan Al-Qur’an dari orang selainnya” dari hadits Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah berkata kepada saya, bacakan Al-Qur’an untukku. Saya berkata, Wahai Rasulullah, apakah saya akan membacakannya sedangkan Al-Qur’an ini diturunkan kepadamu? Beliau menjawab, Ya. Maka saya pun membacakan surat An-Nisa’ hingga pada ayat: “Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkam seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (An-Nisa’: 41). Beliau berkata, “Cukup.” Saya menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya sedang berlinang air mata.”

[5] Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 2699 dalam Kitab Dzikir dan Doa, bab Fadhlul Ijtima’ ‘Ala Tilawatil Qur’an wa ‘Aladz Dzikri dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[6] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 2697 dalam Al-Shulh bab Idza Ishthalahu ‘ala Shulhin Juur Fash Shulh Mardud dan Muslim no. 1718, jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab Naqdhul Ahkamil Bathilah wa Raddu Muhdatsatil Umur dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Sumber: Penyimpangan Terhadap Al-Qur’an oleh Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz (penerjemah: Ahmad Amin Sjihab, muraja’ah: Aman Abdurrahman, Lc), penerbit: Darul Haq, cet. II, Muharram 1423 H/ April 2002 M, hal. 8-20.

Laman: 1 2 3

Siwak, Si Kayu Ajaib

Bisa jadi pembahasan tentang siwak telah begitu lekat di benak para pembaca. Begitu banyak tulisan, bahkan jurnal kesehatan baik dari dalam maupun luar negeri yang menjadikan siwak sebagai topik kesehatan unggulan (khususnya kesehatan gigi dan mulut), sekaligus sebagai salah satu dari hikmah dan keajaiban dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Continue reading →

Artikel hari raya

Mari jadikan hari raya kita penuh keberkahan. Berikut ini kami sajikan kepada anda rangkuman artikel seputar Idul Fitri dan Idul Adha, semoga bermanfaat dalam mempersiapkan ilmu demi menyongsong hari kemenangan mendatang.

Meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Ber’idul Fithri
Shalat Ied & Hal-hal yang Berkaitan dengannya
Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha dan Hukum-hukumnya
Shalat Ied di Lapangan
Tuntunan Para Salaf dalam Bertakbir di Saat Hari Raya
Hukum Mengangkat Kedua Tangan pada Takbir-takbir Shalat ‘Ied
Fatwa Syaikh Al-’Utsaimin Seputar Shalat ‘Ied
Sunnah Ied yang Hampir Terlupakan
Kekeliruan & Kesalahan di Hari Raya
Kemungkaran-kemungkaran di Hari Raya
Hukum Bergembira di Hari Raya
Hukum Ucapan: Taqabbalallahu Minna wa Minkum
Hukum Mengkhususkan Ziarah Kubur Pada Hari Raya dan Hari Jum’at
Fatwa Ulama Berkaitan Hukum Shalat Jum’at di Hari Raya
Hukum Shalat Jum’at yang Bertepatan Hari Raya
Bid’ah Hari Raya Ketupat (Syawalan)
Tanya Jawab Seputar Puasa Enam Hari di Bulan Syawwal
Hukum Seputar Puasa Sunnah Enam Hari di Bulan Syawal
Amalan-amalan Utama di Bulan Dzulhijjah
Amalan-amalan Keliru di Bulan Dzulhijjah
Hukum Puasa Arafah yang Berbeda dengan Makkah
Puasa Arafah dan Idul Adha, Ikut Pemerintah atau Arab Saudi?

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menerima amalan kita semua.