Monthly Archives: September, 2011

Kisah nyata

Mendulang hikmah dari sebuah kisah akan jauh lebih bermakna bila kita ambil dari perjalanan para salafus shalih. Meski tak jarang terdapat beberapa kisah ‘hitam’ mewarnai sebuah perjalanan, namun tetaplah kita dapat mengambil pelajaran darinya. Pembaca, berikut ini sajian kami berupa kumpulan artikel kisah-kisah nyata yang ada di blog ini, semoga bermanfaat.

Salman Al-Farisi, Sang Pemburu Kebenaran
Kezuhudan Asy-Syaikh Muhammad As-Sumali
Kisah Keteladanan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
Kisah Keteladanan Asy-Syaikh Al-Albani
Kisah Keteladanan Asy-Syaikh Bin Baz
Sepenggal Kisah Perjalanan Dakwah Syaikh Rabi’ di Sudan
Kisah Desa yang Terkubur Di Dieng
Dosa-dosa TKW di Tanah Arab
Cerita Indah TKI di Arab Saudi
Kisah Lelaki yang Mengolok-olok Siwak
Syaikh Berkepala Keledai

Iklan

Editfatawaquran1

Banyak sekali kesalahan yang terjadi di masyarakat kita berkaitan dengan Al-Qur’an. Amalan-amalah salah tersebut bukan sekedar dianggap sebagai tradisi dan adat istiadat, namun lebih jauh bahwa semua itu diyakini sebagai bagian dari agama, yang menyebabkan dosa dan cela bila tidak dikerjakan. Continue reading →

Fatwa8quran

nya dalil yang menunjukkan keharamannya.

Menggunakannya termasuk syirik kecil menurut hadits-hadits ini. Namun bisa menjadi syirik besar bila penggunanya menganggap bahwa jimat itulah yang menjaganya dan menyembuhkan penyakitnya, atau menolak bala tanpa ada campur tangan dari Allah dan kehendak-Nya.

Jenis kedua: Terbuat dari tulisam ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa nabi dan sejenisnya dari golongan doa-doa yang baik. Dalam jenis ini para ulama berbeda pendapat mengenainya. Sebagian membolehkannya dengan alasan sebagai ruqyah yang diperbolehkan. Dan sebagian lainnya tidak membolehkannya dan berpendapat bahwa jenis ini termasuk haran, dengan dua dasar/dalil:

Dalil pertama:
Keumuman hadits yang melarang jimat-jimat, ancaman bagi pelakunya dan dihukumi sebagai kesyirikan. Maka tidak boleh mengkhususkan jimat dan membolehkannya kecuali dengan dalil syar’i, sementara dalil yang menunjukkan pengkhususan tersebut tidak ada.

Adapun ruqyah, telah ada dalil dari hadits-hadits shahih yang menunjukkan, bahwa apabila ruqyah terdiri dari ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa yang dibolehkan, maka hukumnya boleh, bila diucapkan dengan lisan yang bisa dimengerti dan tidak menganggap bahwa ruqyah itulah yang mendatangkan manfaat. Tapi dengan keyakinan bahwa ruqyah itu hanya sebagai sebab dari datangnya manfaat yang diinginkan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Diperbolehkan menggunakan mantera (ruqyah) selama tidak mengandung kesyirikan.” [4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan sebagian sahabat beliau pernah melakukan ruqyah. Beliau bersabda:

“Tidak ada ruqyah selain untuk menyembuhkan dari pandangan mata jahat atau gigitan hewan berbisa.” [5]

Hadits-hadits dalam masalah ini banyak.

Adapun mengenai jimat, tidak ada satu dalil pun yang mengkhususkannya, maka wajib untuk mengharamkan segala jenis jimat, sebagai pengamalan dari dalil-dalil umum.

Dalil kedua:
Menjaga terjadinya kesyirikan. Ini adalah perkara besar dalam syariat Islam. Telah dimaklumi, bahwa apabila kita membolehkan jimat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa lainnya, maka pintu kesyirikan akan mulai terbuka. Jimat yang diharamkan tersamarkan dengan jimat yang diperbolehkan. Hingga kemudian sangat susah untuk membedakan antara keduanya. Karenanya maka wajib hukumnya untuk menutup pintu yang menuju kepada kesyirikan.

Pendapat inilah yang benar, berdasarkan dalil-dalilnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu 1/388-385)

3. Menggantungkan Jimat dari Al-Qur’an dan Sejenisnya

Jimat-jimat yang biasa dipakai oleh manusia ada dua jenis. Pertama: terbuat dari selain Al-Qur’an. Kedua: terbuat dari Al-Qur’an. Dalam hal ini pendapat para ulama terbagi menjadi dua.

Pendapat pertama: Tidak boleh memakainya. Inilag pendapat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas, dan pendapat yang nampak dari Hudzaifah, Uqbah bin Amir dan Ibnu Ukaim. Diikuti pula oleh para tabi’in, di antaranya sahabat Ibnu Mas’ud. Termasuk Ahmad, dalam suatu riwayat yang dipilih oleh sebagian besar para sahabat dan orang-orang yang datang setelahnya.

Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud dan selain keduanya, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Sesungguhnya ruqyah, jimat-jimat dan pengasihan itu termasuk syirik.” [6]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullahu [7] berkata: “Inilah yang benar, berdasarkan tiga hal, yang nampak bagi orang yang mau memperhatikan.

– Keumuman larangan dan ketiadaan dalil yang mengkhususkannya.

– Menjaga agar tidak terjadi yang tidak diinginkan (saddud dzari’ah), karena bisa menyebabkan pemakaian jimat yang bukan dari Al-Qur’an.

– Dengan menggunakannya, maka ia bisa menghinakan Al-Qur’an karena jimat itu akan ikut terbawa olehnya ketika buang air besar, istinja’ dan sejenisnya.

Pendapat kedua: Dibolehkan memakai jimat yang terbuat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa syar’i. Ini pendapat Abdullah bin Amr bin ‘Ash, dan yang nampak dari pendapat ‘Aisyah. Pendapat ini diikuti oleh Abu Ja’far Al-Baqir dan Ahmad dalam suatu riwayat. Sementara hadits yang melarang ditafsirkan sebagai larangan untuk jimat yang mengandung kesyirikan. (Lihat Fatawa wa Rasailusy Syaikh Hbnu Baz rahimahullahu, editor Abdussalam Ya’qub 1/88)

Adapun jimat yang terbuat dari selain Al-Qur’an, seperti tulang-tulang, rumah kerang/siput, rambut serigala dan sejenisnya, jelas suatu kemungkaran yang diharamkan dengan dalil nash. Tidak boleh memakainya untuk anak-anak atau selainnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Barangsiapa menggantungkan jimat, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya dan barangsiapa menggantungkan wada’ah (penangkal penyakit) semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.” [8]

“Barangsiapa mengalungkan jimat, maka ia telah berlaku syirik.” [9]

4. Menjama’ antara Hadits yang Melarang dan Membolehkan dalam Masalah Ruqyah

Ruqyah yang dilarang adalah ruqyah yang mengandung kesyirikan atau menggunakan perantara kepada selain Allah, atau dengan lafazh-lafazh yang tidak dimengerti artinya. Adapun ruqyah yang tidak mengandung hal-hal yang tersebut di atas adalah ruqyah yang disyariatkan dan termasuk sebab-sebab kesembuhan yang besar, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Diperbolehkan menggunakan mantera selama tidak mengandung kesyirikan.” [10]

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Barangsiapa bisa memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR. Muslim dalam kitab Shahih-nya) [11]

“Tidak ada ruqyah selain untuk menyembuhkan atau dari sengatan hewan berbisa.” [12]

Maksudnya adalah tidak ada ruqyah yang lebih manjur selain ruqyah untuk menyembuhkan dua penyakit ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah meruqyah dan diruqyah.

Adapun mengalungkan sesuatu kepada orang sakit atau anak-anak maka ini tidak diperbolehkan. Ruqyah yang dikalungkan semacam ini disebut jimat.

Pendapat yang benar dalam hal ini adalah bahwa jimat termasuk jenis syirik yang diharamkan, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Barangsiapa menggantungkan jimat, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya dan barangsiapa menggantungkan wada’ah (penangkal penyakit) semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.” [13]

“Barangsiapa mengalungkan jimat, maka ia telah berlaku syirik.” [14]

“Sesungguhnya ruqyah, jimat-jimat dan pengasihan itu termasuk syirik.” [15]

Sementara itu para ulama masih berbeda pendapat mengenai jimat yang terbuat dari Al-Qur’an atau doa-doa yang mubah, apakah termasuk yang diharamkan pula? Yang benar dalam hal ini bahwa jimat dalam jenis ini diharamkan, berdasarkan dua sisi:

– Keumuman hadits yang melarangnya, yang mencakup jimat dengan Al-Qur’an maupun dengan selain Al-Qur’an.

– Mencegah terjadinya kesyirikan. Sesungguhnya apabila jimat dari Al-Qur’an dibolehkan, maka akan tercampur dengan jimat-jimat dari jenis lain dan tersamarkan hingga terbukalah pintu kesyirikan dengan tersebarnya semua jenis jimat. Telah dimaklumi bahwa mencegah sesuatu yang bisa menyebabkan kepada kesyirikan dan kemaksiatan termasuk kaidah syar’iyah terbesar. (Fatawa wa Rasa’ilusy Syaikh bin Baz rahimahullahu, editor Abdussalam Ya’qub 1/96)

5. Membawa Kitab Al-Hisnul Hassin dan Sejenisnya sebagai Tolak Bala

Membawa buku-buku semisal Al-Hasnul Hassin, Hirzul Jausy, Sab’atul Uqud dan sejenisnya dengan tujuan untuk menjadikannya sebagai penolak bala, tidak diperbolehkan. (Fatawa wa Rasa’ilusy Syaikh bin Baz rahimahullahu, editor Abdussalam Ya’qub 1/150)

6. Mengkhususkan Surat-surat Al-Kahfi, As-Sajdah, Yasin, Fushshilat, Ad-Dukhan, Al-Waqi’ah, Al-Hasyr dan Al-Mulk sebagai ayat-ayat Penyelamat

Setiap ayat dan surat dalam Al-Qur’an merupakan penyembuh hati, rahmat dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman serta penyelamat bagi orang yang berpegang teguh dengannya dan mengambil petunjuknya dari kekufuran, kesesatan dan adzab yang pedih.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah menerangkan dengan ucapan, perbuatan dan persetujuannya terhadap diperbolehkan ruqyah, [16] tapi tidak ada riwayat dari beliau yang mengkhususkan delapan surat dalam Al-Qur’an ini sebagai surat-surat penyelamat. Yang ada justru bahwa beliau memohonkan perlindungan untuk dirinya sendiri dengan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas, yang beliau baca tiga kali kemudian beliau tiupkan ke kedua telapak tangan setiap kali selesai, lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh yang bisa dijangkau. [17]

Abu Said pernah meruqyah dengan Al-Fatihah kepala suku kaum kafir yang disengat binatang berbisa hingga ia sembuh dengan izin Allah Subhanallahu wa Ta’ala, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam membolehkan hal tersebut. [18]

Beliau juga membolehkan ruqyah dengan bacaan ayat Kursi ketika hendak tidur dan bahwa yang membacanya tidak akan didekati setan pada malam tersebut. [19]

Maka barangsiapa mengkhususkan surat-surat yang telah tersebut di atas sebagai surat-surat penyelamat, maka berarti ia bodoh dan telah berbuat bid’ah. Barangsiapa mengurutkan surat-surat ini dan memisahkan dari surat-surat lainnya dalam Al-Qur’an, dengan tujuan mencari keselamatan, penjagaan diri dan mencari berkah, maka ia telah bermaksiat karena telah mengingkari urutan mushaf Utsmani yang telah disepakati oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhu dan telah meninggalkan sebagian besar Al-Qur’an dengan mengkhususkan sebagian kecil, yang tidak pernah dikhususkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam atau salah seorang dari sahabatnya.

Dengan demikian maka wajib hukumnya untuk melarang perbuatan ini dan mencegah pencetakan model ini, sebagai pengingkaran terhadap kemungkaran. (Fatawa Lajnah Da’imah, no. 1260)

7. Membacakan Ayat Al-Qur’an Atas Air Zamzam

Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwasanya beliau minum air zamzam, membawanya dan menganjurkan untuk meminumnya. Beliau bersabda:

“Air zamzaw berkhasiat untuk tujuan meminumnya.” [20]

D

Hukum Menamai Masjid dengan Nama Seseorg

Tidak jarang seseorang yang hendak mewakafkan hartanya untuk sebuah pembangunan masjid ia berkeinginan agar nantinya masjid tersebut dinamai dengan namanya. Hal itu dilakukannya supaya masyarakat tahu bahwa dialah pemrakarsa berdirinya masjid tersebut. Tentu saja hal seperti itu bisa mencacati keikhlasannya dalam beramal. Continue reading →

10 Nasihat untuk Mempelai Wanita

Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrnya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin ‘Amr al-Kindi. Dia pesankan,

“Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai. Continue reading →

Hukum Orang yang Jahil tentang Tauhid

Pertanyaan: Apakah seseorang yang tidak mengetahui urusan yang berkaitan dengan tauhid diberi uzur?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullahu menjawabnya sebagai berikut.

Pemberian uzur karena jahil (bodoh) adalah satu hal yang pasti dalam seluruh urusan agama seorang hamba. Continue reading →

Hukum Ibadah yang Disertai Riya

Pertanyaan: Apa hukum ibadah yang disertai riya?

Jawab:

Berikut ini jawaban Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullahu terhadap pertanyaan di atas.

Riya yang menyertai ibadah itu ada tiga macam: Continue reading →